Selasa, 15 April 2014

Abad-abad Keemasan Peradaban Islam




Kejayaan Islam dalam membangun peradaban manusia tidak bisa dibantah. Dalam sejarah peradaban Islam tercatat tinta emas bagaimana para shahabat dengan semangat mempelajari ilmu pengetahuan baik dari al-Qur’an dan hadis. Kemudian melahirkan berbagai cabang ilmu pengetahuan yang diaplikasikan ke dalam berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi.

Pada abad I Hijriyah, begitu semangatnya para shahabat belajar langsung kepada Rasulullah SAW. Mereka menghafal setiap ayat al-Qur’an yang disampaikan Rasulullah SAW, bahkan karena takut lupa mereka mencatat di kulit, tulang, dan berbagai macam media lainnya.

Mereka kemudian mengklasifikasikannya dalam berbagai bidang seperti ilmu fikih, akidah, ahklak, hukum, tauhid, faraid,  kalam, filsafat, matematika, bahasa, mantiq dan  lain sebagainya. Dari sini muncul tokoh-tokoh Islam berpengaruh dari generasi ke generasi. Pada generasi sahabat, misalnya, terdapat Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdullah bin Mas`ud, Zaid bin Tsabit, Abdullah bin Abbas dan lain sebagainya. Dengan ilmu pengetahuan dasar tauhid, akidah dan akhlak lahirlah semangat untuk mencintai ilmu pengetahuan sampai pada masa tabi’in, hingga masa kekhalifahan Umayyah dan Abasiyah.

Pada masa Harun Ar-Rasyid, khalifah kelima Abbasiyah dilanjutkan khalifah Ma’mun Ar-Rasyid, Islam berkembang pesat. Dimana saat itu Baghdad menjadi salah satu pusat ilmu pengetahuan dunia. Beberapa bukti kejayaan itu antara lain kekhalifahan Islam berhasil mewujudkan keamanan, kedamaian serta kesejahteraan rakyat.

Membangun kota Baghdad yang terletak di antara sungai Eufrat dan Tigris dengan bangunan-bangunan megah. Yang tidak kalah pentingnya adalah membangun tempat-tempat peribadatan, sarana pendidikan, kesenian, kesehatan, dan perdagangan. Bahkan pada saat itu juga didirikan Baitul Hikmah, sebagai pusat penelitian dan kajian yang menyedot minat pelajar dari seluruh penjuru dunia untuk menempuh pendidikan perguruan tinggi, melakukan penelitian dan studi kepustakaan.

Dikenalkan pula semacam majelis al-muzakarah, yakni lembaga pengkajian masalah-masalah keagamaan yang diselenggarakan di rumah-rumah, mesjid-mesjid, dan istana. Hal ini membuktikan bagaimana pemerintah sangat memperhatikan para ilmuwan dengan memberikan berbagai macam fasilitas untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang dipadukan dengan kebutuhan masyarakat dan pemerintah pada saat itu.



Kemajuan ilmu dan keluhuran akhlak

Pada zaman kemajuan peradaban Islam abad ke-7 sampai 17 tak hanya melahirkan generasi yang mumpuni di bidang keagamaan tapi juga berbagai ilmu pengetahuan. Era itu banyak melahirkan para ilmuwan di berbagai bidang dengan berbagai temuan teori-teori baru yang menjadi sumbangan besar bagi sejarah peradaban dunia.

Di bidang matematika misalnya, para pakar matematika Muslim telah memberi kontribusi nyata dan menemukan berbagai macam teori di bidang matematika seperti yang kita kenal sekarang. Mereka menemukan sistem bilangan desimal, sistem operasi dalam matematika seperti penjumlahan, pengurangan, perkalian, pembagian, eksponensial, dan penarikan akar.

Tak cuma itu, mereka juga memperkenalkan angka-angka dan lambang bilangan, termasuk angka “nol” (zero). Mereka antara lain juga menemukan persamaan kuadrat, algoritma, fungsi sinus, cosinus, tangen, cotangen, dan lain-lain. Pakar matematika Muslim itu antara lain : al-Khawarizmi, al-Kindi, al-Karaji, al-Battani, al-Biruni, dan Umar Khayyam.

Di kalangan masyarakat Barat, al-Khawarizmi lebih dikenal dengan nama Algorisme atau Algoritme. Ia telah banyak menemukan teori-teori dalam matematika dan populer dengan sebutan Bapak Aljabar. Teori Aljabar itu ia tulis dalam kitabnya yang bertajuk Kitab Al-Jabr wal Muqabalah atau buku tentang pengembalian dan pembandingan. Teori ‘algoritme’ dalam matematika modern diambil dari namanya, karena dialah yang pertama kali mengembangkannya.

Sementara di bidang kimia ada nama Jabir Ibnu Hayyan, al-Biruni, Ibnu Sina, ar-Razi, dan al-Majriti. Jabir Ibnu Hayyan yang telah memperkenalkan eksperimen (percobaan) kimia mendapat predikat ‘Bapak Kimia Modern’. Sementara dalam bidang biologi para ilmuwan Muslim yang ikut memberikan kontribusi besar antara lain al-Jahiz, al-Qazwini, al-Damiri, Abu Zakariya Yahya, Abdullah Ibn Ahmad Bin Al-Baytar, dan al-Mashudi.

Al-Jahiz adalah pencetus pertama teori evolusi. Sayang namanya tidak disebutkan dalam buku-buku pelajaran biologi di sekolah maupun di perguruan tinggi. Pelajar dan ma-hasiswa lebih mengenal nama Charles Darwin, ilmuwan yang hidup seribu tahun sepeninggal al-Jahiz.

Sedangkan di bidang fisika ada Ibn Al-Haitham, Ibnu Bajjah, al-Farisi dan Fakhruddin Ar-Razi. Selain jago fisika, Fakhruddin Ar-Razi juga jago matematika, astronomi, dan ahli kedokteran. Ia adalah Ulama yang Intelek. Seorang mufassir yang ahli kedokteran, juga seorang faqih yang jago matematika.

Para ilmuwan Muslim yang hidup di era keemasan Islam itu memang jago di bidang ilmu kealaman, sekaligus pakar agama. Mereka ahli tafsir, ahli hadis, dan bidang-bidang lainnya. Hal ini semakin memperkokoh perkembangan sains Islam yang melahirkan berbagai disiplin ilmu pengetahuan serta menjadi kontribusi besar dari umat Islam untuk membangun peradaban dunia.

Fakta ini diamini oleh Sejarawan Barat, W Montgomery Watt. Dalam analisanya tentang rahasia kemajuan peradaban Islam. Ia mengatakan bahwa Islam tidak mengenal pemisahan yang kaku antara ilmu pengetahuan, etika, dan ajaran agama. Satu dengan yang lain, dijalankan dalam satu tarikan nafas. Pengamalan syariat Islam, sama pentingnya dan memiliki prioritas yang sama dengan riset-riset ilmiah.

Peradaban Islam memang mengalami jatuh-bangun, berbagai peristiwa telah menghiasi perjalanannya. Meski demikian, orang tidak mudah untuk begitu melupakan peradaban emas yang berhasil ditorehkannya untuk umat manusia ini. Pencerahan pun terjadi di segala bidang dan di seluruh dunia.

Gustave Lebon memberi kesaksiannya, bahwa terjemahan buku-buku bangsa Arab, terutama buku-buku keilmuan hampir menjadi satu-satunya sumber-sumber bagi pengajaran di perguruan-perguruan tinggi Eropa selama lima atau enam abad. Tidak hanya itu, Lebon juga mengatakan bahwa hanya buku-buku bangsa Arab-Persia lah yang dijadikan sandaran oleh para ilmuwan Barat seperti Roger Bacon, Leonardo da Vinci, Arnold de Philipi, Raymond Lull, Santo Thomas, Albertus Magnus dan Alfonso X dari Castella.




Kemajuan Barat yang timpang

Sangat disayangkan ketika kemampuan ulama Islam ini mulai mengundang perhatian dunia Barat. Ilmuwan Barat membangun peradaban dunia dengan teknologi modern namun meninggalkan nilai-nilai ajaran Islam. Tonggak sejarah peradaban Barat terjadi pada masa renaissance Eropa pada abad ke-15 M dimana mereka mengembangkan ilmu pengetahuan dari Islam, namun berusaha membebaskan diri dari pengaruh ajaran agama.

Karena tidak didukung dengan pemahaman agama, hasil peradaban yang mereka bangun berorientasi sekuler dan liberal. Lalu berkembang pemahaman yang memisahkan antara kepentingan dunia dan akhirat. Akhirnya muncul pemikiran dan berbagai peraturan yang menginginkan adanya pemisahan antara negara dan agama. Tanpa disadari peradaban sekuler dan liberal ini berhasil menjauhkan manusia dari ajaran agama.

Disini terjadi perbedaan yang menonjol antara orientasi peradaban umat Islam dan orientasi peradaban Barat. Masyarakat sekuler dan liberal cenderung menghendaki dunia yang bebas tanpa aturan agama. Doktrin agama bagi mereka dianggap sebagai racun penghalang kemajuan zaman.

Hal ini yang membuat situasi dan kondisi jauh berbeda dengan kondisi ketika Islam mencapai puncak kejayaan antara lain; ketika Islam meraih puncak keemasan, peradaban manusia dibangun dengan dasar akhlak dan tauhid. Sementara pada masa renaissance Eropa, kondisi justru sebaliknya, dimana terjadi pergeseran nilai-nilai peradaban yang semula berorientasi kepada akhlak yang mulia, pengetahuan dan pemahaman agama, berubah menjadi peradaban yang berorientasi pada kehidupan dunia (materialistik).

Menurut Sekjen Majelis Intelektual Ulama Muda Indonesia (MIUMI), Bachtiar Nasir Lc, beberapa kelompok yang tidak menghendaki kejayaan Islam membuat sekenario besar (grand design) untuk menghancuran Islam dari dalam.  Selain itu, ada pula pendekatan kalangan Muslim sendiri yang keliru dalam konsep dan praktiknya. Misalnya ide iman dan taqwa (Imtaq) dan ilmu pengetahuan dan teknologi (Iptek). Awalnya, ide ini bagus tapi membuat pesantren kehilangan fungsinya sebagai tempat bertafaqquh fid din sehingga keduniaannya lebih menonjol. Demikian juga yang terjadi di beberapa perguruan tinggi Islam jurusan bahasa Arab, ushuluddin, dakwah dan jurusan-jurusan lain semakin sepi.

Dari sisi lain, pendekatan ini juga bisa dilakukan kelompok di luar Islam untuk melancarkan salah satu misinya yaitu deradikalisasi Islam. Namun tidak menyurutkan semangat para ulama dan para santri untuk memperdalam ilmu-ilmu dasar agama. “Jadi kalau saya melihat deradikalisasi ini adalah bentuk serangan sekaligus keputusasaan kelompok sekuler dan liberal dalam menghancuran Islam,” terangnya.

Pada dasarnya peradaban dunia yang sekuler dan liberal menjadikan manusia sebagai makhluk penguasa yang serakah. Akidah dan akhlak mereka semakin tidak terkontrol dan menjadikan perilaku mereka seperti binatang. Ketika Islam jaya, tidak akan membiarkan negeri manapun terjajah oleh negeri lain. Kesatuan dan kebersamaan selalu dijaga dengan mengedepankan saling menghormati dan menghargai. 

Berbeda ketika dunia Barat menancapkan hegemoninya di dunia, mereka selalu berusaha melemahkan negara lain agar lebih mudah menguasai sumber daya alam, ilmu pengetahuan dan sumber daya manusianya. Hal ini pengaruh dari orientasi renaissance Eropa yang menempatkan manusia sebagai makhluk yang bebas menentukan pilihan sendiri dan dalam posisinya sebagai penguasa atas alam.

Maka tidak bisa dipungkiri bahwa kemajuan seseorang dimanapun tidak bisa lepas dari ajaran agama Islam. Dalam bidang apapun baik ilmu pengetahuan, politik, sosial, budaya, ketahanan dan keamanan negara, al-Qur’an dan hadis menjadi sumber dasar hukum dan pedoman hidup. Dengan menjadikan al-Qur’an dan hadis sebagai pedoman hidup maka orientasi yang terbangun untuk membangun peradaban adalah mencapai kejayaan, tidak untuk dirinya sendiri tapi untuk seluruh alam.

Inilah yang disebut konsep Islam rahmatan lil `alamin bahwa Islam tidak merusak tapi membangun peradaban. Berbeda jauh dengan orang yang belajar ilmu pengetahuan tanpa didasari ajaran agama, orientasi dari orang tersebut cenderung merusak, liberal dan sekuler.

Kamis, 02 Januari 2014

Prabu Siliwangi

Bagi masyarakat Sunda atau Jawa Barat, siapa yang tidak mengenal nama Prabu Siliwangi. Raja Pajajaran yang identik dengan Harimau Putih itu dikenal sebagai salah satu raja sakti yang pernah dimiliki oleh negeri Pasundan (Jawa Barat). Nama Prabu Siliwangi sendiri sesungguhnya adalah nama lain dari Pangeran Pamanah Rasa.

Dalam Kitab Suwasit, dikisahkan bahwa Pangeran Pamanah Rasa merupakan putra mahkota dari Prabu Anggararang yang menguasai Kerajaan Gajah. Pangeran Pamanah kemudian melanjutkan kepemimpinan ayahnya, Prabu Anggararang sebagai Raja gajah.

Di tengah memimpin kerajaan gajah, Prabu Pamanah Rasa kerap mengembara ke sesuatu daerah. Di dalam salah satu pengembarannya, Prabu Pamanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih di hutan yang terletak di daerah Majalengka. Pertempuan pun tidak terelakkan.

Prabu Pamanah Rasa dan Siluman Harimau Putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itu pun bertarung sengit. Namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil memenangi pertarungan dan membuat siluman Harimau Putih tunduk kepadanya.

Dengan tunduknya siluman Harimau Putih, maka meluaslah wilayah kerajaan Gajah. Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya mengubah nama kerajannya menjadi kerajaan Pajajaran. Yang berarti menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih.

Siluman Harimau Putih beserta pasukannya selanjutnya dengan setia mendampingi dan membantu Prabu Pamanah Rasa. Salah satunya kala kerajaan Pajajaran menundukkan kerajaan Galuh. Siluman Harimau Putih juga turut membantu Prabu Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh kerajaan Mongol.

Seiring meluasnya wilayah kerajaan Gajah, Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang kini menjadi lambang propinsi Jawa Barat, yaitu Kujang. Senjata itu berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di gagangnya. Ukiran harimau di gagang Kujang konon sebagai pengingat terhadap pendamping setianya, siluman Harimau Putih.

Kapan Prabu Pamanah Rasa menggunakan nama Prabu Siliwangi? Nama itu dipakai setelah dia memutuskan untuk memeluk agama Islam sebagai syarat menikahi Nyi Ratu Subanglarang yang merupakan murid dari Syaikh Quro.

Dan dari rahim Nyi Ratu Subanglarang lah lahir seorang putra yang dinamakan Pangeran Kian Santang yang selanjutnya diberi gelar Pangeran Cakrabuana. Selain itu, Nyi Ratu Subanglarang juga melahirkan seorang putri yang diberi nama Nyi Mas Rara Santang. Nyi Mas Rara Santang dinikahi Maulana Sultan Mahmud atau Syarif Abdullah, seorang Arab keturunan Bani Ismail, kemudian memiliki putera yang bernama Syarif Hidayatullah atau biasa dikenal dengan Sunan Gunung Jati.
 
Bagaimana selanjutnya kisah Prabu Siliwangi? Prabu Siliwangi sendiri tidak diketahui akhir hidupnya. Banyak yang meyakini jika Prabu Siliwangi bersama siluman Harimau Putih menghilang dan memindahkan kerajaan Pajajaran ke alam Gaib.

Raja Faishal bin Abdul Aziz Alu Su’ud

“Apakah kalian melihat pohon-pohon ini (pohon kurma)?! Sungguh ayah dan nenek moyang kita ratusan tahun mampu bertahan hidup hanya dengan memakan buahnya. Kita pun demikian, kita siap kembali tinggal di kemah-kemah seperti mereka. Kita tidak butuh (uang dari penjualan) minyak, kalau hanya digunakan musuh kita untuk memerangi (saudara-saudara) kita.”
Inilah potongan pidato Raja Faishal bin Abdul Aziz, Raja Arab Saudi, ketika melihat Amerika berpihak kepada Israel yang mencaplok tanah Palestina. Beliau menyatakan siap hidup miskin, tinggal di kemah-kemah seperti seorang badui dan siap hanya memakan kurma saja sebagaimana leluhurnya dahulu sebagai konsekuensi mengembargo ekspor minyak ke Amerika.

Kelahiran dan Masa Pertumbuhannya
Dia adalah Faishal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman al-Faishal Alu Su’ud. Ia dilahirkan di Riyadh, bulan Safar 1324 H bertepatan dengan April 1906 M. Hari kelahirannya tepat bersamaan dengan kemenangan sang ayah, Abdul Aziz Alu Su’ud, dalam Perang Raudhah al-Hana, salah satu perang terpenting yang melatarbelakangi terbentuknya Kerajaan Arab Saudi jilid III.
Faishal kecil mulai mempelajari agama Islam di lingkungan rumahnya dengan guru-guru yang kompeten. Gurunya yang paling terkenal dan berpengaruh terhadap keilmuannya adalah Syaikh Abdullah bin Abdul Latif Alu asy-Syaikh, salah seorang keturunan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahab. Faishal mampu menghafal Alquran di usia yang sangat belia, di usia yang belum genap 13 tahun. Sebagaimana tradisi Arab dan kerajaan-kerajaan Islam sebelumnya, putra mahkota akan dilatih menunggang kuda dan terampil menggunakan senjata (bela diri) di masa kecil mereka, demikian juga Faishal, ia mengalami masa kecil yang tidak jauh berbeda dari masa kecil raja-raja Islam di abad klasik.
Di usia 13 tahun, untuk pertama kalinya Faishal turut serta berperang bersama ayahnya. Saat itu memang bangsa Arab terpecah-pecah bukan hanya dalam bentuk negara bahkan menjadi bersuku-suku. Tiga tahun kemudian, di usia 16 tahun, ia dipercaya memimpin pasukan menaklukkan wilayah Hail (kota di Barat Laut Arab Saudi sekarang), kemudian di usia 20 tahun dipercaya sebagai pemimpin pasukan menghadapi pemberontak dari Yaman. Setelah pemberontak Yaman ini mulai lemah dan kerajaan mampu untuk menaklukkan Kota Shan’a, Raja Abdul Aziz menyepakati perjanjian damai dengan orang-orang Yaman. Faishal muda yang masih bergejolak semangatnya, merasa kecewa dan menolak keputusan sang ayah, namun dari sanalah ia belajar tentang kebijaksanaan, kemenangan tidak hanya diukur dengan kekuatan pedang. Dari kejadian itu juga sang ayah mengajarkan kepadanya bagaimana mengambil tindakan dalam politik luar negeri.

Diangkat Menjadi Menteri Luar Negeri
Negara pertama yang dikunjungi Faishal bin Abdul Aziz ketika menjabat menteri luar negeri adalah Kerajaan Inggris. Ia mengadakan dialog dan menjalin kesepakatan-kesepakatan dengan negeri Ratu Elisabet tersebut. Pada tahun 1939, atas perintah ayahnya, Faishal kembali mengunjungi Inggris untuk melobi kerajaan tersebut agar tidak menjadikan wilayah Palestina sebagai negara Yahudi. Saudi berusaha melobi Inggris dengan tawaran kesepakatan tentang kerja sama minyak antara dua negara. Namun superioritas Inggris kala itu tidak bisa dipengaruhi dengan kekuatan minyak Arab Saudi.
Untuk mempromosikannya dan membuatnya semakin dikenal dunia, ayahnya, Raja Abdul Aziz, menambah jabatannya. Selain sebagai menteri luar negeri, ia juga dipercaya sebagai amir wilayah Hijaz, karena Hijaz yang terdapat Mekah dan Madinah sangat erat kaitannya dengan dunia Islam secara umum. Dan kebijakan ini semakin mengasah kemampuannya untuk menjadi seorang pemimpin yang besar.

Menjadi Raja Arab Saudi
Pada bulan Rabiul Awal bertepatan dengan November 1953, Raja Faishal diangkat menjadi raja Arab Saudi menggantikan saudaranya, Raja Saud bin Abdul Aziz. Sebelumnya Raja Faishal menduduki posisi putra mahkota (crown prince). Ia dilantik menjadi raja tanggal 2 November 1964.
Dalam pidato pertamanya sebagai raja, ia mengatakan, “Aku memohon kepada saudara-saudaraku, untuk mengangap aku sebagai seorang saudara dan pelayan Anda, kemuliaan hanyalah milik Allah.”
Salah satu kebijakan penting yang dibuat Raja Faishal di awal pemerintahannya adalah ia menghapus aturan-aturan yang terkesan mebuat jarak antara raja dan rakyatnya dan hubungan antara sesama rakyat; ia menghapuskatn protokoler mencium tangan raja dalam acara kenegaraan, menghapuskan perbudakan, bagi mereka yang memiliki budak agar segera membebaskan budak-budak tersebut dan negara menanggung kompensasinya. Negara mengeluarkan 60 juta Real untuk pembebasan budak. Tidak berhenti sampai disitu, mantan budak ini diakui dan dimuliakan oleh negara dengan diberi kewarganegaraan.
Kemudian Raja Faishal juga secara progresif memperbaiki perekonomian kerajaan yang cukup terpuruk. Di awal pemerintahannya kas negara hanya sebesar 2.000.000.000 Real kemudian di tahun 1975 menjadi 22. 810.000.000 Real. Upaya-upaya perbaikan ekonomi terus dilakukan oleh Raja Faishal terutama membebaskan ketergantungan Real terhadap Dolar Amerika.
Perbaikan di sektor pendidikan pun menjadi perhatian utama Raja Faishal, karena ia menyadari pondasi utama untuk memperbaiki dan membangun negara adalah berangkat dari kualitas pendidikan yang baik. Ia membangun banyak sekolah di seluruh wilayah Arab Saudi, sekolah untuk anak laki-laki dan anak perempuan, kemudian juga membangun universitas dan tempat-tempat penelitian ilmiah.
Pembangunan-pembangunan fisik dan infrastruktur yang baik juga tidak lepas dari perhatiannya; pembangunan jalan-jalan, jaringan listrik, fasilitas perairan, pabrik-pabrik dan kilang minyak, penyiaran, dan telekomunikasi.

Kebijakan Politik Luar Negeri
Banyak sekali kebijakan-kebijakan luar negeri Raja Faishal yang berpihak kepada Islam dan dunia Arab. Ia membentuk Rabithah al-‘Alam al-Islami. Ia juga terkenal sebagai pemimpin Arab yang sangat vokal dalam memperjuangkan kemerdekaan Palestina, memfasilitasi organisasi yang berjuang untuk kemerdekaan tersebut baik secara materi maupun lobi-lobi politik.
Dalam sebuah pidatonya yang fenomenal, tentang pembebasan Palestina, ia menyerukan rakyatnya untuk berjihad melawan Yahudi di tanah Palestina.
“Saudara-saudaraku, apa yang kita tunggu? Apakah kita menunggu nurani dunia? Dimanakah nurani dunia itu?
Sesungguhnya al-Quds yang mulia memanggil kalian dan meminta tolong kepada kalian, wahai saudara-saudara, agar kalian menolongnya dari musibah dan apa yang menimpanya. Apa yang membuat kita takut? Apakah kita takut mati? Padahal adakah kematian yang mulia dan lebih utama dari orang yang mati berjihad di jalan Allah?
Wahai saudaraku kaum muslimin, kita semua harus bangkit! demi kebangkitan Islam, yang tidak dipengaruhi oleh kesukuan, kebangsaan, dan juga partai. Tapi dakwah islamiyah, seruan kepada jihad fi sabilillah, di jalan membela agama dan akidah kita, membela kesucian kita.
Dan aku berharap kepada Allah, jika menetapkan aku mati, maka agar Dia aku syahid fi sabilillah.
Saudaraku, maafkanlah aku, agar kalian tidak menuntutku. Karena sesungguhnya ketika aku berteriak (saat ini), masjid mulia kita sedang dihinakan dan dilecehkan, dipraktekkan di dalamnya kekejian, kemaksiatan, dan penyimpangan moral.
Sesungguhnya aku berharap kepada Allah dengan ikhlas, jika aku tidak mampu melaksanakan jihad, tidak mampu membebaskan al-Quds … agar dia tidak menghidupkan aku setelah ini..”
Raja Faishal meneruskan langkah sang ayah, Raja Abdul Aziz, menjalin hubungan diplomatik yang erat dengan Amerika Serikat. Dua negara ini bekerja sama dalam perdagangan senjata dan pelatihan militer sampai akhirnya hubungan ini pun retak dikarenakan campur tangan Amerika terhadap isu-isu sensitif di Timur Tengah.
Pada tahun 1973, Amerika menekan negara-negara Arab, khususnya Mesir, dalam Perang Yom Kipur. Negara adidaya tersebut mengancam akan menyerang Mesir apabila Mesir meneruskan agresinya ke Israel. Mendengar kabar tersebut Raja Faishal pun marah dan menyatakan perang secara ekonomi dengan Amerika Serikat dengan cara mengembargo ekspor minyak mereka ke negara adidaya itu. Kebijakan ini benar-benar menciutkan Amerika beserta negara-negara Pakta Perlawanan Atlantik Utara (N.A.T.O) yang mendukungnya.
Presiden Amerika saat itu, Richard Nixon sampai turun tangan langsung untuk meredakan kemarahan Raja Faishal. Ia datang ke Arab Saudi untuk berdialog dengan Raja Faishal membahas embargo yang dilakukan Saudi. Namun Nixon harus pulang dengan rasa rendah diri setelah mendengar ucapan Raja Faishal, “Tidak akan ada perdamaian sebelum Israel mengembalikan tanah-tanah Arab yang dirampas pada tahun 1967!”

Wafatnya
Apa yang dilakukan Raja Faishal terhadap Richard Nixon dan negaranya ternyata berbuntut panjang, dan disinyalir menjadi penyebab kematiannya. Pada tanggal 12 Rabiul Awal 1395 /  25 Maret 1975, keponakan Raja Faishal yang bernama Faishal bin Mus’ad bin Abdul Aziz yang baru saja pulang dari Amerika datang menemuinya. Di ruang tunggu, Faishal bin Mus’ad berbicara dengan delegasi Quwait yang juga ingin bertemu Raja.
Saat Raja datang menemui mereka, Faishal bin Mus’ad mendekati Raja dan berpura-pura hendak memeluknya, Raja Faishal yang tidak mengetahui niat busuk keponakannya ini dengan senang hati menyambut keponakannya dan mendekatinya untuk menciumnya sebagaimana budaya Arab Saudi pada umumnya. Lalu Faishal bin Mus’ad mengeluarkan pistolnya, dan menembakkannya kea rah Raja Faishal; tembakan pertama mengenai dagu Raja Faishal dan tembakan kedua mengenai telinganya. Para pengawal Raja menangkap Faishal bin Mus’ad dan menghentikan kebrutalannya lalu raja segera dibawa ke rumah sakit. Namun sayang, nyawa Raja Faishal sudah tidak tertolong lagi karena kehilangan banyak darah. Ia wafat tidak lama setelah kejadian itu.
Dari hasil penyidikan, disinyalir bahwa Faishal bin Mus’ad memiliki gangguan jiwa, namun ada juga yang menyatakan ia hendak membalas dendam atas tewasnya saudaranya Khalid bin Mus’ad karena kekeliruan kebijakan kerajaan. Faishal bin Mus’ad pun divonis hukum pancung. Eksekusi dilaksanakan di Riyadh, 18 Juni 1975, di sore hari.
Semoga Allah membalas jasa-jasa Raja Faishal untuk Islam dan kaum muslimin dan menempatkannya di surga yang penuh kedamaian. Aamiin.

Kisah Sahabat Nabi: Abdurrahman bin Auf, "Manusia Bertangan Emas"

Abdurrahman bin Auf termasuk kelompok delapan orang yang mula-mula masuk Islam. Ia juga tergolong sepuluh sahabat yang diberi kabar gembira oleh Rasulullah masuk surga dan termasuk enam orang sahabat yang bermusyawarah dalam pemilihan khalifah setelah Umar bin Al-Khathab. Di samping itu, ia adalah seorang mufti yang dipercayai Rasulullah berfatwa di Madinah selama beliau masih hidup.

Pada masa Jahiliyah, ia dikenal dengan nama Abd Amr. Setelah masuk Islam, Rasulullah memanggilnya Abdurrahman bin Auf. Ia memeluk Islam sebelum Rasulullah menjadikan rumah Al-Arqam sebagai pusat dakwah. Ia mendapatkan hidayah dari Allah dua hari setelah Abu Bakar Ash-Shiddiq memeluk Islam.

Seperti kaum Muslimin yang pertama-tama masuk Islam lainnya, Abdurrahman bin Auf tidak luput dari penyiksaan dan tekanan dari kaum kafir Quraisy. Namun ia tetap sabar dan tabah. Abdurrahman turut hijrah ke Habasyah bersama kawan-kawan seiman untuk menyelamatkan diri dan agama dari tekanan Quraiys.

Tatkala Rasulullah SAW dan para sahabat diizinkan Allah hijrah ke Madinah, Abdurrahman menjadi pelopor kaum Muslimin. Di kota yang dulu bernama Yatsrib ini, Rasulullah mempersaudarakan orang-orang Muhajirin dan Anshar. Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan dengan Sa'ad bin Rabi Al-Anshari.

Sa'ad termasuk orang kaya diantara penduduk Madinah, ia berniat membantu saudaranya dengan sepenuh hati, namun Abdurrahman menolak. Ia hanya berkata, "Tunjukkanlah padaku di mana letak pasar di kota ini!"

Sa'ad kemudian menunjukkan padanya di mana letak pasar. Maka mulailah Abdurrahman berniaga di sana. Belum lama menjalankan bisnisnya, ia berhasil mengumpulkan uang yang cukup untuk mahar nikah. Ia pun mendatangi Rasulullah seraya berkata, "Saya ingin menikah, ya Rasulullah," katanya.

"Apa mahar yang akan kau berikan pada istrimu?" tanya Rasul SAW.

"Emas seberat biji kurma," jawabnya.

Rasulullah bersabda, "Laksanakanlah walimah (kenduri), walau hanya dengan menyembelih seekor kambing. Semoga Allah memberkati pernikahanmu dan hartamu."

Sejak itulah kehidupan Abdurrahman menjadi makmur. Seandainya ia mendapatkan sebongkah batu, maka di bawahnya terdapat emas dan perak. Begitu besar berkah yang diberikan Allah kepadanya sampai ia dijuluki 'Sahabat Bertangan Emas'.

Pada saat Perang Badar meletus, Abdurrahman bin Auf turut berjihad fi sabilillah. Dalam perang itu ia berhasil menewaskan musuh-musuh Allah, di antaranya Umar bin Utsman bin Ka'ab At-Taimy. Begitu juga dalam Perang Uhud, dia tetap bertahan di samping Rasulullah ketika tentara Muslimin banyak yang meninggalkan medan perang.

Abdurrahman bin Auf adalah sahabat yang dikenal paling kaya dan dermawan. Ia tak segan-segan mengeluarkan hartanya untuk jihad di jalan Allah. Pada waktu Perang Tabuk, Rasulullah memerintahkan kaum Muslimin untuk mengorbankan harta benda mereka. Dengan patuh Abdurrahman bin Auf memenuhi seruan Nabi SAW. Ia memelopori dengan menyerahkan dua ratus uqiyah
emas.

Mengetahui hal tersebut, Umar bin Al-Khathab berbisik kepada Rasulullah, "Sepertinya Abdurrahman berdosa karena tidak meninggalkan uang belanja sedikit pun untuk keluarganya."

Rasulullah bertanya kepada Abdurrahman, "Apakah kau meninggalkan uang belanja untuk istrimu?"

"Ya," jawabnya. "Mereka kutinggalkan lebih banyak dan lebih baik daripada yang kusumbangkan."

"Berapa?" tanya Rasulullah.

"Sebanyak rezeki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah."

Pasukan Muslimin berangkat ke Tabuk. Dalam kesempatan inilah Allah memuliakan Abdurrahman dengan kemuliaan yang belum pernah diperoleh siapa pun. Ketika waktu shalat tiba, Rasulullah terlambat datang. Maka Abdurrahman bin Auf yang menjadi imam shalat berjamaah. Setelah hampir selesai rakaat pertama, Rasulullah tiba, lalu shalat di belakangnya dan mengikuti sebagai makmum. Sungguh tak ada yang lebih mulia dan utama daripada menjadi imam bagi pemimpin umat dan pemimpin para nabi, yaitu Muhammad SAW.

Setelah Rasulullah wafat, Abdurrahman bin Auf bertugas menjaga kesejahteraan dan keselamatan Ummahatul Mukminin (para istri Rasulullah). Dia bertanggung jawab memenuhi segala kebutuhan mereka dan mengadakan pengawalan bagi ibu-ibu mulia itu bila mereka bepergian.

Suatu ketika Abdurrahman bin Auf membeli sebidang tanah dan membagi-bagikannya kepada Bani Zuhrah, dan kepada Ummahatul Mukminin. Ketika jatah Aisyah ra disampaikan kepadanya, ia bertanya, "Siapa yang menghadiahkan tanah itu buatku?"

"Abdurrahman bin Auf," jawab si petugas.

Aisyah berkata, "Rasulullah pernah bersabda, 'Tidak ada orang yang kasihan kepada kalian sepeninggalku kecuali orang-orang yang sabar."

Begitulah, doa Rasulullah bagi Abdurrahman bin Auf terkabulkan. Allah senantiasa melimpahkan berkah-Nya, sehingga ia menjadi orang terkaya di antara para sahabat. Bisnisnya terus berkembang dan maju. Semakin banyak keuntungan yang ia peroleh semakin besar pula kedermawanannya. Hartanya dinafkahkan di jalan Allah, baik secara sembunyi-sembunyi maupun terang-terangan. Walau termasuk konglomerat terbesar pada masanya, namun itu tidak memengaruhi jiwanya yang dipenuhi iman dan takwa.

Berbahagialah Abdurrahman bin Auf dengan limpahan karunia dan kebahagiaan yang diberikan Allah kepadanya. Ketika meninggal dunia, jenazahnya diiringi oleh para sahabat mulia seperti Sa'ad bin Abi Waqqash dan yang lain. Dalam kata sambutannya, Khalifah Ali bin Abi Thalib berkata, "Engkau telah mendapatkan kasih sayang Allah, dan engkau berhasil menundukkan kepalsuan dunia. Semoga Allah selalu merahmatimu." Amin.

Selasa, 25 Juni 2013

Ilmuan Islam Abad Pertengahan

 
Di awal era pertumbuhan Islam, Dunia Pengetahuan mengalami zaman keemasan dengan bermunculannya ilmuwan - ilmuwan muslim yang sampai sekarang penemuannya masih digunakan dan menjadi rujukan sebagai dasar dari perkembangan pengetahuan modern, tapi mungkin karena kurangnya publisitas dan banyaknya peristiwa sejarah yang menjadikan nama - nama mereka kurang dikenal bahkan di kalangan para umat muslim itu sendiri.

Berikut 10 ilmuwan muslim yang sangat berjasa bagi dunia pengetahuan:

1. IBNU RUSHD (AVERROES)

Abu Walid Muhammad bin Rusyd lahir di Kordoba (Spanyol) pada tahun 520 Hijriah (1128 Masehi). Ayah dan kakek Ibnu Rusyd adalah hakim-hakim terkenal pada masanya. Ibnu Rusyd kecil sendiri adalah seorang anak yang mempunyai banyak minat dan talenta. Dia mendalami banyak ilmu, seperti kedokteran, hukum, matematika, dan filsafat. Ibnu Rusyd mendalami filsafat dari Abu Ja'far Harun dan Ibnu Baja.

Masa hidupnya sebagian besar diberikan untuk mengabdi sebagai "Kadi" (hakim) dan fisikawan. Dan banyak orang mendatangi Ibnu Rusyd untuk mengkonsultasikan masalah kedokteran dan masalah hukum.

Karya-karya Ibnu Rusyd meliputi bidang filsafat, kedokteran dan fikih dalam bentuk karangan, ulasan, essai dan resume. Hampir semua karya-karya Ibnu Rusyd diterjemahkan ke dalam bahasa Latin dan Ibrani (Yahudi) sehingga kemungkinan besar karya-karya aslinya sudah tidak ada.

Karya sbb  :
·Bidayat Al-Mujtahid (kitab ilmu fiqih)
·Kulliyaat fi At-Tib (buku kedokteran)
·Fasl Al-Maqal fi Ma Bain Al-Hikmat Wa Asy-Syari’at (filsafat dalam Islam dan menolak segala paham yang bertentangan dengan filsafat)

2. IBNU SINA / Avicenna

Ibnu Sina lahir pada tahun 370 (H) / 980 (M) di rumah ibunya Afshana, sebuah kota kecil sekarang wilayah Uzbekistan (bagian dari Persia). Ayahnya, seorang sarjana terhormat Ismaili, berasal dari Balkh Khorasan, dan pada saat kelahiran putranya dia adalah gubernur suatu daerah di salah satu pemukiman Nuh ibn Mansur, sekarang wilayah Afghanistan (dan juga Persia). Dia menginginkan putranya dididik dengan baik di Bukhara.

Dia mempelajari kedokteran pada usia 16, dan tidak hanya belajar teori kedokteran, tetapi melalui pelayanan pada orang sakit, melalui perhitungannya sendiri, menemukan metode - metode baru dari perawatan. Anak muda ini memperoleh predikat sebagai seorang fisikawan pada usia 18 tahun dan menemukan bahwa “Kedokteran tidaklah ilmu yang sulit ataupun menjengkelkan, seperti matematika dan metafisika, sehingga saya cepat memperoleh kemajuan; saya menjadi dokter yang sangat baik dan mulai merawat para pasien, menggunakan obat - obat yang sesuai.” Kemasyuran sang fisikawan muda menyebar dengan cepat, dan dia merawat banyak pasien tanpa meminta bayaran.

Ibnu Sina (980-1037) dikenal juga sebagai Avicenna di Dunia Barat adalah seorang filsuf, ilmuwan, dan juga dokter kelahiran Persia (sekarang sudah menjadi bagian Uzbekistan). Beliau juga seorang penulis yang produktif dimana sebagian besar karyanya adalah tentang filosofi dan pengobatan. Bagi banyak orang, beliau adalah “Bapak Pengobatan Modern” dan masih banyak lagi sebutan baginya yang kebanyakan bersangkutan dengan karya-karyanya di bidang kedokteran. Karyanya yang sangat terkenal adalah Qanun fi Thib yang merupakan rujukan di bidang kedokteran selama berabad-abad.

Dia adalah pengarang dari 450 buku pada beberapa pokok bahasan besar. Banyak diantaranya memusatkan pada filosofi dan kedokteran. Dia dianggap oleh banyak orang sebagai “bapak kedokteran modern.” George Sarton menyebut Ibnu Sina “ilmuwan paling terkenal dari Islam dan salah satu yang paling terkenal pada semua bidang, tempat, dan waktu.” pekerjaannya yang paling terkenal adalah The Book of Healing dan The Canon of Medicine, dikenal juga sebagai sebagai Qanun (judul lengkap: Al-Qanun fi At Tibb).

3. AL-BIRUNI

Merupakan matematikawan Persia, astronom, fisikawan, sarjana, penulis ensiklopedia, filsuf, pengembara, sejarawan, ahli farmasi dan guru, yang banyak menyumbang kepada bidang matematika, filsafat, obat-obatan.Abu Raihan Al-Biruni dilahirkan di Khawarazm di Asia Tengah yang pada masa itu terletak dalam kekaisaran Persia. Dia belajar matematika dan pengkajian bintang dari Abu Nashr Mansur.Abu Raihan Al-Biruni merupakan teman filsuf dan ahli obat-obatan Abu Ali Al-Hussain Ibn Abdallah Ibn Sina/Ibnu Sina, sejarawan, filsuf, dan pakar etik Ibnu Miskawaih, di universitas dan pusat sains yang didirikan oleh putera Abu Al Abbas Ma'mun Khawarazmshah. Abu Raihan Al-Biruni juga mengembara ke India dengan Mahmud dari Ghazni dan menemani beliau dalam ketenteraannya di sana, mempelajari bahasa, falsafah dan agama mereka dan menulis buku mengenainya. Dia juga mengetahui bahasa Yunani, bahasa Suriah, dan bahasa Berber. Dia menulis bukunya dalam bahasa Persia (bahasa ibunya) dan bahasa Arab.Sebahagian karyanya ialah:· Ketika berusia 17 tahun, dia meneliti garis lintang bagi Kath, Khwarazm, dengan menggunakan altitude maksima matahari. · Ketika berusia 22, dia menulis beberapa hasil kerja ringkas, termasuk kajian proyeksi peta, "Kartografi", yang termasuk metodologi untuk membuat proyeksi belahan bumi pada bidang datar.

Ketika berusia 27, dia telah menulis buku berjudul "Kronologi" yang merujuk kepada hasil kerja lain yang dihasilkan oleh beliau (sekarang tiada lagi) termasuk sebuah buku tentang astrolab, sebuah buku tentang sistem desimal, 4 buku tentang pengkajian bintang, dan 2 buku tentang sejarah. Beliau membuat penelitian radius Bumi kepada 6.339,6 kilometer (hasil ini diulang di Barat pada abad ke 16).Hasil karya Al-Biruni melebihi 120 buah buku.

4. Al-Khawarizmi

Nama Asli dari al-Khawarizmi ialah Muhammad Ibn Musa al-khawarizmi. Selain itu beliau dikenali sebagai Abu Abdullah Muhammad bin Ahmad bin Yusoff. Al-Khawarizmi dikenal di Barat sebagai al-Khawarizmi, al-Cowarizmi, al-Ahawizmi, al-Karismi, al-Goritmi, al-Gorismi dan beberapa cara ejaan lagi. Beliau dilahirkan di Bukhara.Tahun 780-850M adalah zaman kegemilangan al-Khawarizmi. al-Khawarizmi telah wafat antara tahun 220 dan 230M. Ada yang mengatakan al-Khawarizmi hidup sekitar awal pertengahan abad ke-9M. Sumber lain menegaskan beliau hidup di Khawarism, Usbekistan pada tahun 194H/780M dan meninggal tahun 266H/850M di Baghdad.

Beliau telah menciptakan pemakaian Secans dan Tangen dalam penyelidikan trigonometri dan astronomi. Dalam usia muda beliau bekerja di bawah pemerintahan Khalifah al-Ma’mun, bekerja di Bayt al-Hikmah di Baghdad. Beliau bekerja dalam sebuah observatory yaitu tempat belajar matematika dan astronomi. Al-Khawarizmi juga dipercaya untuk memimpin perpustakaan khalifah. Beliau pernah memperkenalkan angka-angka India dan cara-cara perhitungan India pada dunia Islam. Beliau juga merupakan seorang penulis Ensiklopedia dalam berbagai disiplin. Al-Khawarizmi adalah seorang tokoh yang pertama kali memperkenalkan aljabar dan hisab. Banyak lagi ilmu pengetahuan yang beliau pelajari dalam bidang matematika dan menghasilkan konsep-konsep matematika yang begitu populer yang masih digunakan sampai sekarang.

Algebra/aljabar merupakan nadi matematika. Karya Al-Khawarizmi telah diterjemahkan oleh Gerhard of Gremano dan Robert of Chaster ke dalam bahasa Eropa pada abad ke-12. sebelum munculnya karya yang berjudul ‘Hisab al-Jibra wa al Muqabalah yang ditulis oleh al-Khawarizmi pada tahun 820M. Sebelum ini tak ada istilah aljabar.

5. Jabir Ibnu Hayyan / Ibnu Geber

Lahir di kota peradaban Islam klasik, Kuffah (Irak), ilmuwan Muslim ini lebih dikenal dengan nama Ibnu Hayyan. Sementara di Barat ia dikenal dengan nama Ibnu Geber. Ayahnya, seorang penjual obat, meninggal sebagai 'syuhada' demi penyebaran ajaran Syi'ah. Jabir kecil menerima pendidikannya dari raja bani Umayyah, Khalid Ibnu Yazid Ibnu Muawiyah, dan imam terkenal, Jakfar Sadiq. Ia juga pernah berguru pada Barmaki Vizier pada masa kekhalifahan Abbasiyah pimpinan Harun Al Rasyid.
Ditemukannya kimia oleh Jabir ini membuktikan, bahwa ulama di masa lalu tidak melulu lihai dalam ilmu-ilmu agama, tapi sekaligus juga menguasai ilmu-ilmu umum. "Sesudah ilmu kedokteran, astronomi, dan matematika, bangsa Arab memberikan sumbangannya yang terbesar di bidang kimia," tulis sejarawan Barat, Philip K Hitti, dalam History of The Arabs. Berkat penemuannya ini pula, Jabir dijuluki sebagai Bapak Kimia Modern.
Dalam karirnya, ia pernah bekerja di laboratorium dekat Bawwabah di Damaskus. Pada masamasa inilah, ia banyak mendapatkan pengalaman dan pengetahuan baru di sekitar kimia. Berbekal pengalaman dan pengetahuannya itu, sempat beberapa kali ia mengadakan penelitian soal kimia. Namun, penyelidikan secara serius baru ia lakukan setelah umurnya menginjak dewasa.
Dalam penelitiannya itu, Jabir mendasari eksperimennya secara kuantitatif dan instrumen yang dibuatnya sendiri, menggunakan bahan berasal dari logam, tumbuhan, dan hewani. Jabir mempunyai kebiasaan yang cukup konstruktif mengakhiri uraiannya pada setiap eksperimen. Antara lain dengan penjelasan : “Saya pertamakali mengetahuinya dengan melalui tangan dan otak saya dan saya menelitinya hingga sebenar mungkin dan saya mencari kesalahan yang mungkin masih terpendam “.
Dari Damaskus ia kembali ke kota kelahirannya, Kuffah. Setelah 200 tahun kewafatannya, ketika penggalian tanah dilakukan untuk pembuatan jalan, laboratoriumnya yang telah punah, ditemukan. Di dalamnya didapati peralatan kimianya yang hingga kini masih mempesona, dan sebatang emas yang cukup berat.

6. Ibnu Ismail Al Jazari

Al Jazari mengembangkan prinsip hidrolik untuk menggerakkan mesin yang kemudian hari dikenal sebagai mesin robot.

Di tahun yang sama juga 1206, al-Jazari membuat jam gajah yang bekerja dengan tenaga air dan berat benda untuk menggerakkan secara otomatis sistem mekanis, yang dalam interval tertentu akan memberikan suara simbal dan burung berkicau. Prinsip humanoid automation inilah yang mengilhami pengembangan robot masa sekarang. Kini replika jam gajah tersebut disusun kembali oleh London Science Museum, sebagai bentuk penghargaan atas karya besarnya.
Pada acara World of Islam Festival yang diselenggarakan di Inggris pada 1976, banyak orang yang berdecak kagum dengan hasil karya Al-Jazari. Pasalnya, Science Museum merekonstruksi kerja gemilang Al-Jazari, yaitu jam air.

Tulisan Al-Jazari juga dianggap unik karena memberikan gambaran yang begitu detail dan jelas. Sebab ahli teknik lainnya lebih banyak mengetahui teori saja atau mereka menyembunyikan pengetahuannya dari orang lain. Bahkan ia pun menggambarkan metode rekonstruksi peralatan yang ia temukan.
Karyanya juga dianggap sebagai sebuah manuskrip terkenal di dunia, yang dianggap sebagai teks penting untuk mempelajari sejarah teknologi. Isinya diilustrasikan dengan miniatur yang menakjubkan. Hasil kerjanya ini kerap menarik perhatian bahkan dari dunia Barat.
Dengan karya gemilangnya, ilmuwan dan ahli teknik Muslim ini telah membawa masyarakat Islam pada abad ke-12 pada kejayaan. Ia hidup dan bekerja di Mesopotamia selama 25 tahun. Ia mengabdi di istana Artuqid, kala itu di bawah naungan Sultan Nasir al-Din Mahmoud.
Al-Jazari memberikan kontribusi yang pentng bagi dunia ilmu pengetahuan dan masyarakat. Mesin pemompa air yang dipaparkan dalam bukunya, menjadi salah satu karya yang inspiratif. Terutama bagi sarjana teknik dari belahan negari Barat.
Jika menilik sejarah, pasokan air untuk minum, keperluan rumah tangga, irigasi dan kepentingan industri merupakan hal vital di negara-negara Muslim. Namun demikian, yang sering menjadi masalah adalah terkait dengan alat yang efektif untuk memompa air dari sumber airnya.

Al-Jazari, kala itu, memikul tanggung jawab untuk merancang lima mesin pada abad ketiga belas. Dua mesin pertamanya merupakan modifikasi terhadap Shaduf, mesin ketiganya adalah pengembangan dari Saqiya di mana tenaga air menggantikan tenaga binatang.
Satu mesin yang sejenis dengan Saqiya diletakkan di Sungai Yazid di Damaskus dan diperkirakan mampu memasok kebutuhan air di rumah sakit yang berada di dekat sungai tersebut.
Mesin keempat adalah mesin yang menggunakan balok dan tenaga binatang. Balok digerakkan secara naik turun oleh sebuah mekanisme yang melibatkan gigi gerigi dan sebuah engkol.
Mesin itu diketahui merupakan mesin pertama kalinya yang menggunakan engkol sebagai bagian dari sebuah mesin. Di Eropa hal ini baru terjadi pada abad 15. Dan hal itu dianggap sebagai pencapaian yang luar biasa.
Pasalnya, engkol mesin merupakan peralatan mekanis yang penting setelah roda. Ia menghasilkan gerakan berputar yang terus menerus. Pada masa sebelumnya memang telah ditemukan engkol mesin, namun digerakkan dengan tangan. Tetapi, engkol yang terhubung dengan sistem rod di sebuah mesin yang berputar ceritanya lain.
Penemuan engkol mesin sejenis itu oleh sejarawan teknologi dianggap sebagai peralatan mekanik yang paling penting bagi orang-orang Eropa yang hidup pada awal abad kelima belas. Bertrand Gille menyatakan bahwa sistem tersebut sebelumnya tak diketahui dan sangat terbatas penggunaannya.
Pada 1206 engkol mesin yang terhubung dengan sistem rod sepenuhnya dikembangkan pada mesin pemompa air yang dibuat Al-jazari. Ini dilakukan tiga abad sebelum Francesco di Giorgio Martini melakukannya.
Sedangkan mesin kelima, adalah mesin pompa yang digerakkan oleh air yang merupakan peralatan yang memperlihatkan kemajuan lebih radikal. Gerakan roda air yang ada dalam mesin itu menggerakan piston yang saling berhubungan.
Kemudian, silinder piston tersebut terhubung dengan pipa penyedot. Dan pipa penyedot selanjutnya menyedot air dari sumber air dan membagikannya ke sistem pasokan air. Pompa ini merupakan contoh awal dari double-acting principle. Taqi al-Din kemudian menjabarkannya kembali mesin kelima dalam bukunya pada abad keenam belas.

7. Abu Al Zahrawi / ALBUCASIS
Abu Al Zahrawi merupakan seorang dokter, ahli bedah, maupun ilmuan yang berasal dari Andalusia. Dia merupakan penemu asli dari teknik pengobatan patah tulang dengan menggunakan gips sebagaimana yang dilakukan pada era modern ini. Sebagai seorang dokter era kekalifahan, dia sangat berjasa dalam mewariskan ilmu kedokteran yang penting bagi era modern ini.

Al Zahrawi lahir pada tahun 936 di kota Al Zahra yaitu sebuah kota yang terletak di dekat Kordoba di Andalusia yang sekarang dikenal dengan negara modern Spanyol di Eropa. Kota Al Zahra sendiri dibangun pada tahun 936 Masehi oleh Khalifah Abd Al rahman Al Nasir III yang berkuasa antara tahun 912 hingga 961 Masehi. Ayah Al Zahrawi merupakan seorang penguasa kedelapan dari Bani Umayyah di Andalusia yang bernama Abbas. Menurut catatan sejarah keluarga ayah Al Zahrawi aslinya dari Madinah yang pindah ke Andalusia.

Al Zahrawi menjadi pakar kedokteran yang termasyhur pada zamannya. Bahkan hingga lima abad setelah dia meninggal, bukunya tetap menjadi buku wajib bagi para dokter di berbagai belahan dunia. Prinsip-prinsip ilmu pengetahuan kedokterannya masuk dalam kurikulum jurusan kedokteran di seluruh Eropa.

8. Ibnu Haitham/AL HAZEN
Nama lengkapnya Abu Al Muhammad al-Hassan ibnu al-Haitham. Dunia Barat mengenalnya dengan nama Alhazen. Ia lahir di Basrah tahun 965 M. Di kota kelahirannya itu ia sempat menjadi pegawai pemerintahan. Tetapi segera keluar karena tidak suka dengan kehidupan birokrat.

Sejak itu, mulailah perantauannya untuk belajar ilmu pengetahuan. Kota pertama yang dituju adalah Ahwaz kemudian Baghdad. Kecintaannya kepada ilmu pengetahuan membawanya berhijrah ke Mesir. Untuk membiayai hidupnya, ia menyalin buku-buku tentang matematika dan ilmu falak.

Belajar yang dilakukan secara otodidak membuatnya mahir dalam bidang ilmu pengetahuan, ilmu falak, matematika, geometri, pengobatan, dan filsafat. Tulisannya mengenai mata telah menjadi salah satu rujukan penting dalam bidang penelitian sains di Barat. Kajiannya mengenai pengobatan mata menjadi dasar pengobatan mata modern.

Ibnu Haitham juga turut melakukan percobaan terhadap kaca yang dibakar dan dari situ tercetuslah teori lensa pembesar. Teori itu telah digunakan oleh para saintis di Itali untuk menghasilkan kaca pembesar pertama di dunia. Yang lebih menakjubkan ialah Ibnu Haitham telah menemukan prinsip isi padu udara sebelum seorang ilmuwan bernama Tricella mengetahui hal tersebut 500 tahun kemudian.

Beberapa buah buku mengenai cahaya yang ditulisnya telah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris, salah satunya adalah Light dan On Twilight Phenomena. Kajiannya banyak membahas mengenai senja dan lingkaran cahaya di sekitar bulan dan matahari serta bayang-bayang dan gerhana.

Ibnu Haitham membuktikan dirinya begitu bergairah mencari dan mendalami ilmu pengetahuan pada usia mudanya. Banyak buku yang dihasilkannya dan masih menjadi rujukan hingga saat ini. Di antara buku-bukunya itu adalah Al’Jami’ fi Usul al’Hisab yang mengandung teori-teori ilmu matemetika dan matematika penganalisaan; Kitab al-Tahlil wa al’Tarkib mengenai ilmu geometri; Kitab Tahlil ai’masa’il al ‘Adadiyah tentang aljabar; Maqalah fi Istikhraj Simat al’Qiblah yang mengupas tentang arah kiblat; Maqalah fima Tad’u llaih mengenai penggunaan geometri dalam urusan hukum syarak; dan Risalah fi Sina’at al-Syi’r mengenai teknik penulisan puisi.

Meski menjadi orang terkenal di zamannya, namun Ibnu Haitham tetap hidup dalam kesederhanaan. Ia dikenal sebagai orang yang miskin materi tapi kaya ilmu pengetahuan.

 9. Al-Jahiz

Al-Jahiz lahir di Basra, Irak pada 781 M. Abu Uthman Amr ibn Bahr al-Kinani al-Fuqaimi al-Basri, nama aslinya. Ahli zoologi terkemuka dari Basra, Irak ini merupakan ilmuwan Muslim pertama yang mencetuskan teori evolusi. Pengaruhnya begitu luas di kalangan ahli zoologi Muslim dan Barat. Jhon William Draper, ahli biologi Barat yang sezaman dengan Charles Darwin pernah berujar, ”Teori evolusi yang dikembangkan umat Islam lebih jauh dari yang seharusnya kita lakukan. Para ahli biologi Muslim sampai meneliti berbagai hal tentang anorganik serta mineral.” Al-Jahiz lah ahli biologi Muslim yang pertama kali mengembangkan sebuah teori evolusi .
Ilmuwan dari abad ke-9 M itu mengungkapkan dampak lingkungan terhadap kemungkinan seekor binatang untuk tetap bertahan hidup. Sejarah peradaban Islam mencatat, Al-Jahiz sebagai ahli biologi pertama yang mengungkapkan teori berjuang untuk tetap hidup (struggle for existence). Untuk dapat bertahan hidup, papar dia, makhluk hidup harus berjuang, seperti yang pernah dialaminya semasa hidup. Beliau dilahirkan dan dibesarkan di keluarga miskin. Meskipun harus berjuang membantu perekonomian keluarga yang morat-marit dengan menjual ikan, ia tidak putus sekolah dan rajin berdiskusi di masjid tentang sains. Beliau bersekolah hingga usia 25 tahun. Di sekolah, Al-Jahiz mempelajari banyak hal, seperti puisi Arab, filsafat Arab, sejarah Arab dan Persia sebelum Islam, serta Al-Qur’an dan hadist.
Al-Jahiz juga merupakan penganut awal determinisme lingkungan. Menurutnya, lingkungan dapat menentukan karakteristik fisik penghuni sebuah komunitas tertentu. Asal muasal beragamnya warna kulit manusia terjadi akibat hasil dari lingkungan tempat mereka tinggal. Berkat teori-teori yang begitu cemerlang, Al-Jahiz pun dikenal sebagai ahli biologi terbesar yang pernah lahir di dunia Islam. Ilmuwan yang amat tersohor di kota Basra, Irak itu berhasil menuliskan kitab Ritab Al-Haywan (Buku tentang Binatang). Dalam kitab itu dia menulis tentang kuman, teori evolusi, adaptasi, dan psikologi binatang. Al-Jahiz pun tercatat sebagai ahli biologi pertama yang mencatat perubahan hidup burung melalui migrasi. Tak cuma itu, pada abad ke-9 M. Al-Jahiz sudah mampu menjelaskan metode memperoleh ammonia dari kotoran binatang melalui penyulingan. Sosok dan pemikiran Al-Jahiz pun begitu berpengaruh terhadap ilmuwan Persia, Al-Qazwini, dan ilmuwan Mesir, Al-Damiri. Karirnya sebagai penulis ia awali dengan menulis artikel. Ketika itu Al-Jahiz masih di Basra. Sejak itu, ia terus menulis hingga menulis dua ratus buku semasa hidupnya.

Pada abad ke-11, Khatib al-Baghdadi menuduh Al-Jahiz memplagiat sebagian pekerjaannya dari Kitab al-Hayawan of Aristotle. Selain al-Hayawan, beliau juga menulis kitab al-Bukhala (Book of Misers or Avarice & the Avaricious), Kitab al-Bayan wa al-Tabyin (The Book of eloquence and demonstration), Kitab Moufakharat al Jawari wal Ghilman (The book of dithyramb of concubines and ephebes), dan Risalat mufakharat al-sudan ‘ala al-bidan (Superiority Of The Blacks To The Whites).
Suatu ketika, pada tahun 816 M ia pindah ke Baghdad. Al-Jahiz meninggal setelah lima puluh tahun menetap di Baghdad pada tahun 869, ketika ia berusia 93 tahun.

10. Ar-Razi / RAZHES

bu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi (Persia:أبوبكر الرازي) atau dikenali sebagai Rhazes di dunia barat merupakan salah seorang pakar sains Iran yang hidup antara tahun 864 - 930. Ia lahir di Rayy, Teheran pada tahun 251 H./865 dan wafat pada tahun 313 H/925.

Ar-Razi sejak muda telah mempelajari filsafat, kimia, matematika dan kesastraan. Dalam bidang kedokteran, ia berguru kepada Hunayn bin Ishaq di Baghdad. Sekembalinya ke Teheran, ia dipercaya untuk memimpin sebuah rumah sakit di Rayy. Selanjutnya ia juga memimpin Rumah Sakit Muqtadari di Baghdad. Ar-Razi juga diketahui sebagai ilmuwan serbabisa dan dianggap sebagai salah satu ilmuwan terbesar dalam Islam.

Kontribusi
Bidang Kedokteran= Cacar dan campak

Sebagai seorang dokter utama di rumah sakit di Baghdad, ar-Razi merupakan orang pertama yang membuat penjelasan seputar penyakit cacar:

"Cacar terjadi ketika darah 'mendidih' dan terinfeksi, dimana kemudian hal ini akan mengakibatkan keluarnya uap. Kemudian darah muda (yang kelihatan seperti ekstrak basah di kulit) berubah menjadi darah yang makin banyak dan warnanya seperti anggur yang matang. Pada tahap ini, cacar diperlihatkan dalam bentuk gelembung pada wine. Penyakit ini dapat terjadi tidak hanya pada masa kanak-kanak, tapi juga masa dewasa. Cara terbaik untuk menghindari penyakit ini adalah mencegah kontak dengan penyakit ini, karena kemungkinan wabah cacar bisa menjadi epidemi."

Diagnosa ini kemudian dipuji oleh Ensiklopedia Britanika (1911) yang menulis: "Pernyataan pertama yang paling akurat dan tepercaya tentang adanya wabah ditemukan pada karya dokter Persia pada abad ke-9 yaitu Rhazes, dimana dia menjelaskan gejalanya secara jelas, patologi penyakit yang dijelaskan dengan perumpamaan fermentasi anggur dan cara mencegah wabah tersebut."

Buku ar-Razi yaitu Al-Judari wal-Hasbah (Cacar dan Campak) adalah buku pertama yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya. Cara penjelasan yang tidak dogmatis dan kepatuhan pada prinsip Hippokrates dalam pengamatan klinis memperlihatkan cara berpikir ar-Razi dalam buku ini.

Berikut ini adalah penjelasan lanjutan ar-Razi: "Kemunculan cacar ditandai oleh demam yang berkelanjutan, rasa sakit pada punggung, gatal pada hidung dan mimpi yang buruk ketika tidur. Penyakit menjadi semakin parah ketika semua gejala tersebut bergabung dan gatal terasa di semua bagian tubuh. Bintik-bintik di muka mulai bermunculan dan terjadi perubahan warna merah pada muka dan kantung mata. Salah satu gejala lainnya adalah perasaan berat pada seluruh tubuh dan sakit pada tenggorokan."

Alergi dan demam

Razi diketahui sebagai seorang ilmuwan yang menemukan penyakit "alergi asma", dan ilmuwan pertama yang menulis tentang alergi dan imunologi. Pada salah satu tulisannya, dia menjelaskan timbulnya penyakit rhintis setelah mencium bunga mawar pada musim panas. Razi juga merupakan ilmuwan pertama yang menjelaskan demam sebagai mekanisme tubuh untuk melindungi diri.

Farmasi

Pada bidang farmasi, ar-Razi juga berkontribusi membuat peralatan seperti tabung, spatula dan mortar. Ar-razi juga mengembangkan obat-obatan yang berasal dari merkuri.

Etika kedokteran

Ar-Razi juga mengemukakan pendapatnya dalam bidang etika kedokteran. Salah satunya adalah ketika dia mengritik dokter jalanan palsu dan tukang obat yang berkeliling di kota dan desa untuk menjual ramuan. Pada saat yang sama dia juga menyatakan bahwa dokter tidak mungkin mengetahui jawaban atas segala penyakit dan tidak mungkin bisa menyembuhkan semua penyakit, yang secara manusiawi sangatlah tidak mungkin. Tapi untuk meningkatkan mutu seorang dokter, ar-Razi menyarankan para dokter untuk tetap belajar dan terus mencari informasi baru. Dia juga membuat perbedaan antara penyakit yang bisa disembuhkan dan yang tidak bisa disembuhkan. Ar-Razi kemudian menyatakan bahwa seorang dokter tidak bisa disalahkan karena tidak bisa menyembuhkan penyakit kanker dan kusta yang sangat berat. Sebagai tambahan, ar-Razi menyatakan bahwa dia merasa kasihan pada dokter yang bekerja di kerajaan, karena biasanya anggota kerajaan suka tidak mematuhi perintah sang dokter.

Ar-Razi juga mengatakan bahwa tujuan menjadi dokter adalah untuk berbuat baik, bahkan sekalipun kepada musuh dan juga bermanfaat untuk masyarakat sekitar.

Sumber : http://isidunia.blogspot.com

Manfaat Yang Tersimpan Dari Mentimun

Mentimun, makanan super yang ampuh meredakan kolesterol. Bukan cuma itu, mentimun juga mengandung berbagai manfaat kesehatan lainnya yang tak kalah penting bagi tubuh. Apa saja? Simak selengkapnya 

> Mencegah dehidrasi.
Jika Anda tak punya waktu untuk minum air, coba makan mentimun yang mengandung 96 persen demi mencegah dehidrasi.

> Mengatasi panas dalam dan luar.
Coba makan mentimun ketika tubuh menderita heartburn, selain itu, kulit terbakar matahari juga bisa diatasi dengan masker mentimun.

> Mengusir racun.
Seluruh kandungan air dalam mentimun sifatnya seperti sapu yang mengusir racun dari dalam tubuh dan menyehatkan ginjal.

> Kaya vitamin.
Mentimun mengandung vitamin A, B, dan C yang meningkatkan sistem imun, memberikan energi, dan menjaga kesegaran tubuh.

> Baik bagi kulit.
Makan mentimun adalah solusi tepat untuk menjaga kesehatan dan kecantikan kulit karena di dalamnya mengandung magnesium, kalium, dan silikon.

> Menurunkan berat badan.
Nikmati mentimun dalam bentuk salad atau taburan yogurt, itu adalah camilan terbaik untuk menurunkan berat badan.

> Menyegarkan mata.
Meletakkan irisan mentimun di atas mata yang lelah bukan cuma mampu menyegarkannya, namun juga membuat penampilan mata menjadi lebih cantik.

> Mencegah kanker.
Turunkan risiko kanker dengan rajin makan mentimun, beberapa penelitian sudah membuktikan hal itu.

> Menyegarkan mulut.
Jus mentimun adalah obat alami untuk mengatasi bau mulut dan mengobati penyakit gusi.

> Melancarkan pencernaan.
Mengunyah mentimun adalah olahraga yang baik bagi rahang, bukan cuma itu, serat dalam mentimun juga membantu tubuh melancarkan pencernaan.

> Baik bagi rambut dan kuku.
Silika, mineral dalam mentimun membuat rambut dan kuku tumbuh kuat dan bersinar.

> Mengatasi nyeri otot.
Seluruh vitamin dan mineral dalam mentimun menjadi obat yang paling ampuh untuk mengatasi nyeri otot dan nyeri sendi.

> Kestabilan tekanan darah.
Penderita tekanan darah tinggi maupun rendah biasanya mengonsumsi mentimun agar tekanan darah kembali stabil.

> Kesehatan ginjal.
Karena mentimun mampu menurunkan kadar asam urat dalam sistem, kesehatan ginjal pun akan tetap terjaga.

> Diabetes.
Penderita diabetes bisa menikmati mentimun sambil mendapatkan manfaatnya, yaitu meningkatkan produksi insulin yang bertugas mengontrol kadar gula darah.

> Menurunkan kolesterol.
Seperti yang sudah disebutkan, makan mentimun adalah salah satu cara ampuh untuk menurunkan kadar kolesterol jahat dalam tubuh.

Itulah berbagai manfaat kesehatan dari mentimun. Jangan ragu mengonsumsi dan menikmati manfaat kesehatannya!

Kamis, 20 Juni 2013

7 Cara Membangun Rasa Percaya Diri Anak

Anak yang minder atau memiliki rasa percaya diri yang rendah, akan banyak menemui hambatan dalam belajar di sekolah. Dirinya juga akan kesulitan bergaul dengan teman-temannya, sehingga orang tua perlu membangun rasa percaya diri anak sejak dini.

Berikut 7 langkah yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu anak membangun rasa percaya dirinya, seperti dilansir Emaxhealth, Rabu (27/3/2013):

1. Meningkatkan kepercayaan diri sendiri
Anak belajar dari hal-hal yang dilihatnya, bahkan termasuk sifat-sifat tertentu seperti kemarahan dan rasa takut. Jika Anda memiliki kepercayaan diri yang rendah, anak juga dapat tumbuh menjadi seseorang yang kurang percaya diri.

Oleh karena itu, mulailah membangun kepercayaan diri anak dari diri Anda sendiri. Buatlah daftar kekurangan dan kelebihan yang Anda miliki dan cobalah untuk tidak terlalu memikirkan kekurangan tersebut dengan memaksimalkan kelebihan yang dapat menjadi kekuatan Anda.

2. Menjadi cermin yang positif bagi anak
Seorang anak tidak hanya mendapatkan citra diri dari apa yang dipikirkan tentang dirinya sendiri saja, tetapi juga bagaimana ia memandang dirinya melalui sudut pandang orang lain. Hal ini terutama berlaku bagi anak-anak prasekolah yang belajar tentang diri sendiri sebagian besar dari reaksi orangtuanya.

Sehingga Anda perlu menjadi cerminan yang positif bagi anak Anda. Anak mungkin dapat mengartikan bahwa Anda tidak menyukainya jika ekspresi muka Anda gelisah sepanjang waktu, oleh karena itu segera atasi stres agar tidak disalah artikan oleh anak.

3. Berhati-hati dalam menyampaikan kata-kata
Anak juga perlu mendapatkan teguran atas kesalahannya, tetapi hal tersebut jangan disampaikan dengan kata-kata yang berlebihan. Berpikirlah sebelum Anda berbicara dan pilihlah kata-kata dengan hati-hati agar tidak menyakiti perasaannya hingga membuatnya minder.

Anda cukup menunjukkan kesalahannya dan memintanya untuk tidak mengulangi lagi. Semarah apapun Anda, jangan pernah mengatakan hal-hal kasar seperti Anda tidak mencintainya atau menyesal telah melahirkannya.

4. Luangkan waktu Anda untuk bermain bersama anak
Anak membutuhkan dukungan dan perhatian dari orangtuanya. Jika Anda memiliki lebih banyak waktu untuk menemani anak bermain, Anda dapat memberikan lebih banyak masukan dan pujian kepada anak atas apa yang dilakukannya.

Hal ini dapat memudahkan anak mengenali citra dirinya dan dapat memupuk rasa percaya diri.

5. Membantu anak mengembangkan bakat dan keterampilan baru
Prestasi adalah pembangkit rasa percaya diri yang sangat besar. Cari tahu bakat dan hobi anak Anda, kemudian dukunglah dirinya dalam mengembangkan bakatnya. Misalnya, jika anak memiliki bakat menyanyi, Anda mungkin dapat menyediakan alat karaoke atau memotivasi anak untuk bergabung dalam les vokal.

Anak akan semakin percaya diri ketika memperoleh prestasi dari bakat atau kemampuan akademis lainnya. Tetapi ajarkan pula tentang kegagalan pada anak agar dirinya tidak terlalu kecewa dan minder ketika mengalami kegagalan.

6. Hargai prestasi anak
Anda dapat menghargai prestasi anak dengan memberikan pujian atau memasang hasil karyanya di rumah. Anda dapat membingkai hasil lukisan anak dan memasangnya di ruang keluarga agar anak bangga akan prestasinya dan semakin percaya diri.

7. Biarkan anak memilih teman-temannya sendiri
Anak yang percaya diri tidak akan mengalami kesulitan dalam bergaul dengan orang lain, sehingga biarkan dirinya memilih teman-temannya sendiri. Hal ini juga menjadi salah satu sarana pembelajaran agar anak tidak minder. Anda cukup mengontrol pergaulan anak, jangan sampai dirinya bergaul dengan anak yang berkelakuan negatif seperti merokok dan sebagainya.

Mereka yang Jadi Saksi Awal Mula Lantunan Adzan

Ketika itu, saat sudah masuk waktunya, umat tanpa dipanggil sudah berkumpul untuk menunaikan sholat. Namun ketika sudah hijrah ke M...